Dilema Karst, “ekologi atau pembangunan”

karst maros

kawasan karst maros pangkep. photo by achild komodo

Kawasan Karst merupakan ekosistem yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun, tersusun atas batuan karbonat (batukapur/batugamping) yang mengalami proses pelarutan sedemikian rupa hingga membentuk kenampakan morfologi dan tatanan hidrologi yang unik dan khas.

Indonesia memiliki wilayah karst seluas 154.000 km persegi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Salah satunya terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, yang tersebar di wilayah Kabupaten Maros,Kabupaten Pangkep, Kabupaten Baru dan Kabupaten Bone dengan luas mencapai 43.750 Ha[1].  yang telah dikenal secara internasional sebagai kawasan Karst terbesar Kedua di dunia.

Karst Maros-Pangkep memiliki potensi yang luar biasa bagi penunjang kehidupan manusia, berdasarkan sifat fisiknya, kawasan karst memiliki fungsi utama sebagai akuifer air yang memenuhi air baku bagi ratusan ribu masyarakat yang hidup di dalamnya, kawasan ini juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem regional.[2]

Dari hasil survey yang dilakukan oleh Tim Laboratorium Ekologi Toulouse, Prancis dan Meseum Zoologi Bogor sejak tahun 1990 diperoleh data bahwa Kawasan Karst Maros Pangkep adalah kawasan Karst terbesar kedua di dunia setelah Beijing, cina, yang menurut para ahli merupakan formasi tower karst terindah didunia, banyak memiliki goa-goa bawah tanah dan banyak meninggalkan situs purbakala dan memiliki sumber air yang sangat besar dan menjadi tumpuan masyarakat setempat. Setidaknya, kawasan karst menara ini mempunyai sekitar 284 spesies tumbuhan, 103 jenis kupu-kupu yang diantaranya merupakan spesies endemic, dan 29 goa yang memiliki lukisan purbakala. Dan terdapat pula beberapa system hidrologi yang terpisah satu sama lainnya, selain itu terdapat 237 gua yang tersebar dan 36 diantaranya telah dilakukan pengamatan terhadap jenis fauna yang ada di gua tersebut.[3]

Adapun beberapa manfaat dan fungsi Kawasan Karst yang menjadi alasan pentingnya pelestarian kawasan karst, dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Kawasan Karst Sebagai Akuifer Air Alami
  2. Kawasan Karst Sebagai Hunian Fauna Pengendali Hama
  3. Kawasan Karst Sebagai Pengendali Banjir

Namun demikian, kawasan karst merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap perubahan. Aktivitas manusia menjadi ancaman terbesar terhadap kelestarian fungsi ekologi karst. Hilangnya fungsi ekologi karst merupakan bencana bagi kehidupan manusia yang mustahil untuk dihindarkan. Beberapa dampak buruk yang akan mucul seiring dengan hancurnya kawasan karst antara lain sebagai berikut :

  1. Kemiskinan keanekaragaman hayati pada kawasan karst setempat dan lingkungan non-karst dalam radius pencemaran udara akibat polutan.
  2. Punahnya beberapa spesies yang khas yang memiliki habitat di kawasan karst.
  3. Kerusakan bentukan-bentukan alam yang unik, rusaknya situs arkeologi dan budaya yang merupakan situs purbakala yang akan rusak bersamaan dengan hancurnya kawasan karst.
  4. Lenyapnya pemandangan yang indah.
  5. Rusaknya tatanan air (sumber air karst berkurang dan tercemar).
  6. Tercemarnya lingkungan hunian penduduk oleh debu dan suara alat berat.
  7. Terganggunya kesehatan oleh polutan industri.

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan kawasan karst memang menjadi salah satu permasalahan lingkungan di Indonesia terkhusus di kawasan Maros-Pangkep saat ini. Sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, batu gamping di kawasan karst memiliki potensi sebagai bahan tambang untuk industri yang bermanfaat bagi pembangunan. Akan tetapi di sisi lain, selain manfaatnya sebagai kawasan peruntukan pertambangan, kawasan bentang alam karst juga merupakan bagian dari kawasan lindung geologi yang memiliki manfaat lain seperti yang telah dipaparkan diatas.

Kedua fungsi yang dimiliki kawasan tersebut menjadi permasalahan di masyarakat, yaitu antara kebutuhan ekonomi bagi masyarakat yang memanfaatkan tambang dengan kelestarian lingkungan bagi masyarakat yang memandang karst sebagai kawasan yang perlu dilestarikan.

Berdasarkan pengamatan penulis menunjukkan bahwa perlindungan kawasan bentang alam karst di Indonesia dan terkhusus di kawasan Maros-Pangkep  belum memiliki perangkat dan kekuatan hukum perlindungan yang memadai, berbagai cara memang telah diupayakan oleh pemerintah termasuk dengan memperbaiki instrumen-instrumen hukum terutama yang terkait dengan lingkungan hidup. Salah satu produk hukum yang telah disahkan oleh pemerintah adalah Undang-Undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.Undang-Undang yang mulai berlaku sejak Oktober 2009 dan tercatat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140 ini menggantikan peran dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 ini diyakini memiliki tingkat kelengkapan dan pembahasan yang lebih komprehensif jika dibandingkan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997,ini dikarenakan masih banyak celah-celah hukum yang ditinggalkan oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tersebut. salah satunya adalah pada konteks penyelesaian masalah pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup, tentang bagaimana bentuk penyelesaiannya sampai dengan berbagai ancaman pidana terhadap para pelanggarnya.

Sebagai hukum fungsional, Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) menyediakan tiga macam penegakan hukum lingkungan, yaitu penegakan hukum administrasi, perdata dan pidana. Di antara ketiga bentuk penegakan hukum tersedia, penegakan hukum administrasi dianggap sebagai upaya penegakan hukum terpenting, hal ini karena penegakan hukum administrasi lebih ditujukan kepada upaya mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan.[4]

Namun yang menjadi persoalan selanjutnya adalah bagaimana proses penerapan aturan dan penegakan hukumnya, mengingat suatu aturan ketika tidak diiringi dengan aparat yang menerapkan aturan-aturan yang telah disusun dalam suatu Undang-Undang hanya akan menjadi tumpukan kertas yang tak bernilai apa-apa, sehingga menurut penulis dianggap sangat perlu adanya penegakan aturan yang betul-betul dapat mencegah dan memberikan efek jera bagi pelanggarnya termasuk pada perlindungan terhadap kawasan karst.

tengku zull 2016.

[1]Alamendah.org/2009-Karst Maros Pangkep terluas kedua di dunia.Diakses tanggal 12 Januari 2016.

[2]A.B. Rodhial Falah & Akhmad Zona Adiardi – Acintyacunyata Speleological Club Dalam Kemah Konservasi Bksda Propinsi Yogyakarta 26 – 27 November 2011.

[3] Suhardjono dan Yuyuk.R, 2007,  Laporan teknik, Inventarisasi dan Karakterisasi Biota Karst dan Gua Pegunungan Sewu dan Sulawesi Selatan Proyek 212 Bidang Zoologi (Meseum Zoologicum Bogoriense) Pusat Penelitian Biologi-LIPI.Bogor, 2006

[4] Sukanda Husin, Penegakan Hukum Lingkungan Di IndonesiaI, Sinar Grafika, Jakarta: 2009, hlm. 92.

Advertisements

mapala unisi – UII you are never n never walk alone

Bismillah Arrahman Arraheem

peristiwa – musibah yang dialami oleh ukmpa.mapala unisi – uii semakin menambah corengan pada wajah sebutan “Pencinta Alam (PA)” dan pada wajah sebutan “Mahasiswa Pencinta Alam (MPA)” . 

dan corengan itu semakin bertambah tebal ketika kalangan pengguna sebutan – sebutan tersebut menjadi tercerai berai dalam menyikapinya.

dan membiarkan ukmpa.mapala unisi – uii menjadi sendiri bahkan lenyap adalah

suatu tindakan pengecut untuk bertangggunggjawab 

suatu tindakan penakut untuk bertangggunggjawab 

sebagai sesama pengguna sebutan-sebutan tersebut .

peristiwa – musibahyang terjadi di ukmpa.mapala unisi – uii adalah isyarat tegas bahwa memang telah terjadi kesalahan dalam memahami apa sesunggguhnya yang dimaksud dengansebutan “Pencinta Alam (PA) sebutan “Mahasiswa Pencinta Alam (MPA)” 

dan kesalahan itu sudah terlalu lama terjadi bahkan telah dijadikan sebagai suatu kebenaran.

dan membubarkan ukmpa.mapala unisi – uii adalah

suatu tindakan emosional

yang sangat tidak adil 

yang sangat tidak bijak. 

“(terkecuali . . atas kehendak keluarga besar mapala unisi – uii)”

sebagaimana banyak orang mati di meja operasi tapi operasi tidak dibubarkan.

sebagaimana banyak orang beragama – moralnya hancur tapi agama tidak dibubarkan.

sebagaimana banyak koruptor bergelar sarjanatapi perguruan tinggi tidak dibubarkan.

sebagaimana banyak petualang mati tapi petualangan tetap harus ada.

kepada mapala unisi – uii 

tentulah ada hal besar yang harus diperbaiki

tentulah tetaplah bertanggungjawab

tentulah jangan gentar – jangan khawatir

you are never n never n never walk alone.

semoga Allah Subhanahu Wa’Taala – Sang Maha Pencipta 

memperlihatkan kekuasaanNya

………………………………………………………… – Nevy Jamest –

Diambil dari tulisan yang berupa status facebook nevy jamest tonggiroh.

Suku Alifuru dan puncak Binaiya

​Setelah selesai urusan perisinan baik di Taman Nasional Manusela dan Dinas Kehutanan Pulau Seram kami bersiap melakukan pendakian ke puncak gunung Binaiya puncak tertinggi di kepulauan maluku yang tepatnya berada di Maluku Tengah, melalui rute jalur selatan. Yang secara data kami akan menelusuri jalur putar menggunakan ojek menuju Negri Yaputih dari titik start point Negeri Tehoru, namun alam berkehendak lain, jalan yang kami lewati di terjang badai dan banjir sehingga 2 dari tiga jembatan yang akan kami lalui roboh dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan bermotor, jadi kami memutar balik arah menuju ke basecamp Tehoru dan merencanakan kembali rute perjalanan menuju Negeri Yaputih yang merupakan titik start point treking kepuncak Binaiya. Akhirnya kami memutuskan untuk nekat menggunakan jalur laut yang di mana 2 hari sebelumnya tidak ada satupun nelayan yang berani menyebrangkan tim kami karena cuaca yang ekstrim dan ombak yang tinggi waktu itu, namun setelah mencoba bernegosiasi kembali dengan bantuan teman Ijam dari KPA Kadal Ambon, akhirnya 2 kapal nelayan berani menyebrangkan kami menuju Negri Yaputih besok hari.

Pagi setelah sahur kami menyiapkan perlengkapan dan peralatan pendakian kami yang telah kami packing 2 hari yang lalu, kira-kira pukul 7:30 WIT kami berangkat dari bibir pantai Tehoru menuju Negeri Yaputih. stelah 45 menit di terjang ombak akhirnya kami sandar di tepi pantai Negri Yaputi titik start tracking, titik 0 mdpl menuju Negri Piliana perkampungan terakhir sebelum memasuki belantara hutan manusela. Di Negeri Yaputih kami melakukan obseravsi ringan melihat kehidupan masyarakt Negri Yaputi yang mayoritas beragama muslim. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai bertemu dengan medan terjal dan licin, berpapasan dengan orang yang turun gunung untuk membeli sembako untuk kehidupan sehari-harinya, mereka sangat ramah meskipun kelihatan kaget saat berpapasan dengan tim kami yang berjumlah 8 orang dengan carier lumayan besar, setelah 5 jam tracking akhirnya kami tiba di Negeri Piliana, kami langsung ke rumah Bapak Raja Negeri Piliana. Bapak raja sangat ramah, mereka menerima kami dengan sangat ramah, kami memperkanalkan diri dan menyampaikan tujuan kami datang dan bapak raja merespon baik maksud kedatangan kami yaitu Mengidentifikasi Hukum Adat Suku Alifuru Negeri Piliana sekaligus melakukan pendakian ke puncak Gunung Binaiya.

“Homa itakae”, kata bapak raja yang artinya mari makan, meskipun bulan puasa, kami tetap menerima ajakan bapak raja, untuk menghargai raja yang memimpin negara (desa) mayoritas non-muslim, kami masuk ke dapur dan sedikit heran melihat sajian yang ada di atas meja makan, bukan makanannya namun tatanan meja yang ala-ala Eropa dimana piring dibalik di atas kain putih di sampingnya ada garpu dan sendok yang terbalik pula, kami makan serasa restoran eropa dengan menu bappeda, dan memang betul pengaruh Belanda di dalam tatanan kehidupan masyarakat Negeri Piliana sangat erat, dengan kedatangan misionaris jaman lalu yang menjadi panutan masyarakat piliana dan masyarakat negeri kaki gunung binaya pada umumnya.
setelah bercerita panjang dengan bapak raja dan petua masyarakat negeri piliana akhirnya kami beristirahat tidur dan bersiap untuk bertemu dengan dewan adat untuk mengambil data sesuai tujuan kami dan mengikuti ritual adat makan pinang sebagai proses untuk melakukan pendakian ke gunung Binaiya besok yang pertemuannya telah diatur oleh bapak raja dan masyarakat setempat.

Pemandangan pagi hari Negeri Piliana sangat sempurna, pagi yang cerah dan makanan telah tersaji di meja tamu teras rumah bapak raja yang di sampingnya terdapat gendang besar seperti yang ada di mesjid-mesjid tua, yang kegunaannya sama namun selain sebagai penanda sesaat sebelum pemberitahuan tertentu gendang yang disebut gong oleh masyarakat piliana ini juga sebagai gong yang di arak oleh warga yang melanggar adat sambil meneriakan sesuatu sesuai keputusan adat. Ini berlaku kepada setiap pelanggaran adat baik pidana maupun perdata meskipun tidak diatur secara adat yang mana pelanggaran pidana dan yang mana perdata.

Setelah semua siap kami langsung ke salah satu rumah dewan adat masyarakat piliana untuk wawancara dan melakukan ritual makan pinang, sekitar 3 jam tanya jawab dan ritual makan pinang di rumah yang dindingnya dari kulit pohon pinang dan beralaskan tanah ini selesai akhirnya kami berpamitan untuk kembali kerumah bapak raja untuk mengolah kembali data yang telah diambil dan mempersiapkan pendakian untuk esok harinya. Ada beberapa hal menarik dari wawancara tadi yang sebagian besar membahas soal hukum adat dan sejarah masyarakat piliana yang merupakan suku Alifuru dari manusela Maraaina, yang bercirikan kain merahnya. Salah satunya bagaiman adat mengatur tatanan masyarakatnya dengan sangat fleksible, bagaimana suku alifuru menjaga hubungannya dengan alam dan leluhurnya.

keeseokan harinya pukul 07.00 wit kami melanjutkan tracking menuju puncak binaiya dengan target hari ini camp aimoto yang secara data 8 jam tracking. Dengan dipandu oleh guide lokal bapak Nahor, yang ternyata sudah hampir 20 tahun tidak mendaki kegunung binaiya dimana pendakian terkhirnya dilakukan saat dia masih muda dalam sebuah pencarian pesawat yang jatuh, namun kami tetap yakin dengan kemampuan navigasinya di hutan manusela, secara, kampung tempat hidupnya di tengah hutan. Sekitar jam 5 sore kami tiba di camp aimoto yang telah didirikan Shelter oleh balai taman nasional manusela. Seperti pendakian lainnya dengan segalah tugas yang telah dibagi saat breafing team bekerja cepat, secara, hujan dan angin selalu setia menemani perjalanan kami hari itu, teringat tips mendaki ala sebuah majallah pendaki indonesia yang sempat saya baca di camp tehoru, yang salah salah satunya menghindari pendakian saat musim hujan, lumayan, tips ini melekat selama perjalanan dan lumayan menghibur saat tim mulai merasa dingin tips ini menjadi lelucon, meskipun kami sadari potensi bahayanya namun kontrol diri dan persiapan membuat kami bisa mengatasinya.

Esok harinya saat hujan belum redah kami melanjutkan perjalanan dengan target camp isilali, sekitar 8 jam waktu tempuh dengan jalur pendakian terjal dan medan berfariasi, sungai, tanjakan batu cadas, lumpur membuat sepatu tracking saya pensiun dini, untungnya saya menyiapkan sepatu cadangan di pendakian kali ini, seperti saran dari pendaki yang pernah melewati jalur pendakian gunung binaiya. Setelah memotong punggungan puncak bintang yang berbatu kami tiba di camp isilali yang vegetasi pohonya sangat rapat dan sangat lembab, seperti kemarin kami menyiapkan segalanya, termasuk mendirikan tenda yang di mana camp sebelumnya tidak kami gunakan, setelah semua selesai kami melanjutkan breafing untuk pendakian besok di temani amor tembako khas Ambon yang lumayan menghangatkan di camp isilali yang sangat dingin ini.
Hari ketiga pendakian, matahari belum juga memberikan kehangatan, kami tracking dengan target camp nasapeha yang lembab dan dinginnya mencapai 9°c, di sepanjang pendakian kami, hujan gerimis kadang lebat masih setia menemani, dengan kabut tebal mengharuskan kami hati-hati menelusuri punggungan batu yang terjal, setelah melewati punggungan selanjutnya memasuki hutan lembab yang beralaskan lumut tebal, akhirnya kami tiba di sebuah kubangan besar semacam danau yang dipenuhi lumut. Camp Nasapeha, yang kami tempuh lumayan cepat melebihi data pegangan kami, kami mendirikan tenda, makan dan selanjutnya breafing dan kami putuskan untuk kepuncak saat subuh hari untuk mengurangi hari pendakian dengan pertimbangan ransum dan cuaca yang selalu ekstrim di siang hari, pukul 3.00 wit kami telah siap tracking ke puncak Binaiya, bapak Nahor guide kami menjaga camp, sekitar pukul 8 pagi kami tiba di puncak binaiya 3037 mdpl, sekitar setengah jam berpose di anatara kabut, kami meninggalkan puncak binaiya menuju camp isilali, di jalur yang kami lewati naik saat gelap ternyata sangan indah saat matahari mulai muncul perlahan menyinari bunga warna warni, pohon kaktus endemik gunung bianiya, membuat sempurna perjalanan kami. 

Kami tiba di camp nasapeha dan di sambut senyum hangat bapak Nahor yang telah siap tracking pulang karena persediaan amornya telah habis dari tadi malam, setelah sarapan kami meninggalkan camp isilali menuju camp aimoto yang kami tempuh kurang lebih 10 jam tracking. Beristirahat di camp aimoto dengan shelternya yang hangat, berbagi pengalaman pribadi saat pendakian kemarin membuatnya semakin hangat, ditambah daun gatal obat tradisional penghilang rasa sakit dan pegal masyarakat piliana menjadi cerita tersendiri dalam pegalaman pendakian ini. Setelah tidur pulas di shelter aimoto keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Negeri Piliana, sekitar 4 jam tracking kami tiba dan disambut hangat masyarakat negeri piliana, bappeda yang disiapkan Bapak Raja langsung kami santap dengan lahap, sedangakan Bapak Nahor sibuk menggulung amornya yang sangat dia rindukan, meskipun kami, iya,! namun bapeda dulu baru amorr. Perjalanan ini dilakukan saat bulan puasa, namun disisi lain kami menghargai jamuan bapak raja negeri piliana, Meskipun begitu toleransi beragama masyarakat Piliana sangat dijunjung tinggi.

Catatan, Makassar 2013

Tim mavalles II CAREFA UNHAS

when the road stop the journey was began.

Pelayaran kali lumanyan menguji kesabaran, 2 jam menunggu kapal untuk berangkat menuju pelabuhan surabaya belum juga meninggalkan kordinatnya, entah berapa batang rokok menjadi debu. tapi, setidaknya kesabaran masyarkat indonesia sudah teruji di sini, belum lagi kesabaran orang tua yang menenangkan anaknya yang mulai gerah dengan pengapnya kapal ini, semoga kesabaran kita tetap terjaga menikmati perkembangan indonesia ke yang lebih baik. 

Suasana menunggu kapal berlayar

Kopi Tebal

12 jam berlalu, alun-alun kota mulai ramai dihiasi lampu warna warni, meskipun diujung langit masih mempertontonkan warnanya yang mulai bercampur memberikan pantulan cahaya sempurna, giliran suara adzan magrib terdengar setelah suara itu berjuang mengarungi luasnya bumi, detiknya bertambah menuju menit dan kemudian menjadi jam, para pengarung malam mulai menghadap ke segelas kopinya yang tak lagi hitam sempurna, mulutnya mulai mengeluarkan suara-suara nyaring yang tak sedikit menghasilkan getaran meja dan benturan antara gelas dengan alasnya, bahak terbahak-terbahak, kadang juga suara itu lenyap ditelan jempolnya yang sibuk dengan androidnya. “kopi tebal” meskipun sebenarnya sang pengarung malam bingung antara ketebalan kopi dan susu yang datang diantarkannya, tak sempat bertanya ke sang pengantar namun cukup untuk menatap dan menyimpulkan bahwa kopinya terlalu manis untuk malam ini. Nada semakin merdu setelah datang kopi pesanan terakhir itu, membuat malam ini menjadi sempurna, namun sungguh egois jika malam tak juga berakhir memberikan kesempatan terang untuknya. akhirnya malam mulai meninggi, cahaya mulai sunyi, waktunya beranjak meninggalkan jejak kopi dan puntung, saat itu pula rindunya mencekam.

Wkp 21

Portrait Photography Explained

Portrait Photography Explained

Portrait photography or portraiture is photography of a person or group of people that captures the personality of a subject by using effective lighting, backdrops, and poses.

https://youpic.com/image/8260323

There are many different techniques for portrait photography. Often it is desirable to capture the subject’s eyes and face in sharp focus while allowing other less important elements to be rendered in a soft focus. At other times, portraits of individual features might be the focus of a composition such as the hands, eyes or part of the subject’s torso.

https://youpic.com/image/8490344

Most portraits are taken with the camera at (or around) the eye level of the subject. While this is good common sense – completely changing the angle that you shoot from can give your portrait a real WOW factor.

https://youpic.com/image/8459037

Side-lighting can create mood, backlighting and silhouetting your subject to hide their features can be powerful.
https://youpic.com/image/8468123

Have your subject focus their attention on something unseen and outside the field of view of your camera. This can create a feeling of candidness and also create a little intrigue and interest as the viewer of the shot wonders what they are looking at.
https://youpic.com/image/8497140

Placing your subject either dead centre can sometimes create a powerful image – or even creative placement with your subject right on the edge of a shot can sometimes create interesting images.
https://youpic.com/image/8480098

Break all the rules
from :

https://youpic.com/learn/2102